Read List 146
Conquering the Academy with Just a Sashimi Knife Chapter 145 – Candidate No. 7, Kang Geom-Ma (2) Chapter 145 – Candidate No. 7, Kang Geom-Ma (2) Bahasa Indonesia
Di salah satu sudut tribun lapangan latihan, Kepala Sung dari Asosiasi Pahlawan mengawasi ujian tersebut bersama bawahannya, Supervisor Ha.
Keduanya memegang berkas tebal berisi dokumen.
[Skor siswa =Leon van Reinhardt=: 98 poin.]
[Rekor baru telah tercetak!]
“Wow. Meski belum sepenuhnya bangkit, Pahlawan tetaplah Pahlawan.”
Supervisor Ha, dengan ekspresi tenangnya yang biasa, bergumam takjub dan menoleh ke arah Kepala Sung.
“Kepala, jujur saja, ini bukan cuma melampaui ekspektasi—tapi menghancurkannya!”
“Kau benar. Saat orang bicara soal ‘Generasi Emas’, aku tak sepenuhnya percaya, tapi melihatnya langsung bikin aku tak bisa bicara. Pantas saja Akademi Joaquin yang terbaik.”
“Tepat sekali. Jujur, perwakilan dari Kelas Naga itu malapetaka, tapi setelah melihat Leon, jadi jelas. Anak-anak ini, meski sepuluh tahun lebih muda dariku, sudah dapat hormatku.”
“…….”
Kepala Sung tetap diam.
Tapi Supervisor Ha paham itu artinya dia setuju.
Di Asosiasi, membaca situasi adalah keahlian wajib.
Lagipula, setelah begadang bersama begitu banyak malam, mereka sudah punya semacam keakraban.
Itu sebabnya Kepala Sung tak repot-repot mengoreksi ucapan santai bawahannya.
“Bagaimanapun, ujian ini hasilnya lebih baik dari yang diharapkan, kan? Kepala, aku yakin dalam hatimu kau merasa bangga.”
“Aku? Tak mungkin. Dan apa kau lupa bahwa kau dan yang lain begadang tiga malam menyiapkan ini?”
“Ah, yang bener~ Ini bukan pertama kali kami kerja nonstop. Kau yang paling menderita, Kepala. Lagipula, kau berhasil meyakinkan direktur akademi yang ditakuti itu.”
Dari pujian Supervisor Ha, Kepala Sung hanya bisa menghela napas panjang.
“Huff, jangan diingatkan. Aku jadi birokrat karena tak mau mempertaruhkan nyawa… tapi sejak ditugaskan di sini, rasanya umurku berkurang bertahun-tahun.”
Dia mengusap pelipisnya, merasakan migrain yang tajam.
‘Meski begitu, awalnya bagus… Jika semuanya terus seperti ini, aku tak perlu terlalu khawatir.’
Ujian kejutan ini adalah acara gabungan pertama antara Akademi Joaquin dan Asosiasi Pahlawan.
Tinggal dua minggu lagi sampai pemilihan ketua OSIS.
Biasanya, hanya siswa tahun kedua yang boleh mencalonkan diri, tapi tahun ini berbeda.
Lagi pula, generasi ini adalah yang disebut “Generasi Emas”.
Kepala Sung meyakinkan Direktur Media bahwa melarang siswa tahun pertama mencalonkan diri adalah pemborosan bakat.
Tentu, itu bukan inisiatifnya sendiri.
Dia cuma menyampaikan perintah atasan.
Dan meski disebut “proposal”, kenyataannya mereka nyaris memohon pada direktur.
Tapi apa boleh buat?
Sebagai karyawan teladan, dia harus patuh pada perintah atasan.
Meski jabatannya kepala, ujung-ujungnya dia cuma manajer menengah yang terjepit antara Akademi Joaquin dan Asosiasi Pahlawan.
Keseimbangan genting itulah kesehariannya.
Untungnya, setelah mendengar proposalnya, Direktur Media akhirnya menyetujui.
‘Baik. Lanjutkan.’
‘D-Direktur, Benaran kami boleh melanjutkan?’
‘Ya. Lagipula kita sepakat bahwa Asosiasi akan punya kelonggaran dalam pemilihan ini. Tapi dengarkan baik-baik—siapa tahu terjadi sesuatu pada murid-muridku, habislah sudah perjanjian kita.’
Tanggapannya dingin membeku.
Tapi jauh di lubuk hati, Media juga yakin akademi butuh perubahan.
Dia tahu ini saatnya menghancurkan paradigma lama.
Jika akademi mulai membusuk dari dalam, mereka butuh angin perubahan.
Maka lahirlah hadiah spesial untuk ujian kejutan ini:
Siswa tahun pertama diperbolehkan mencalonkan diri sebagai ketua OSIS.
Meski hanya dua kursi yang tersedia, kandidat nomor 6 dan 7, dalam sejarah 700 tahun akademi, belum pernah terjadi sebelumnya.
Begitu Media memberi lampu hijau, Kepala Sung dan timnya bergerak cepat dan diam-diam.
Apalagi ini acara pertama di akademi, sekaligus kesempatan bagi Asosiasi untuk menunjukkan kemampuan organisasinya.
Semua kerja keras dan begadang mereka terbayar di depan mata.
Kepala Sung mengingat lagi adegan Leon menghabisi ogre dengan sekali tebas.
Tumbuh kembangnya bahkan lebih cepat dari perkiraan Asosiasi.
‘Tak kusangka dia bisa memburu ogre, makhluk yang cuma dihadapi siswa tahun kedua… dan di atas itu, dengan skor tertinggi sepanjang sejarah.’
Ini skenario ideal bagi petinggi Asosiasi. Itu sebabnya mereka bersikeras pakai ogre untuk ujian ini.
‘Entah kenapa, ketua Asosiasi ingin bocah itu, Leon, jadi ketua OSIS berikutnya.’
Kepala Sung tak tahu alasannya.
Dan bahkan jika tahu, dia ragu bisa memahaminya.
Lagi pula, ketua Asosiasi sudah hidup lebih dari dua abad.
Bagaimana orang biasa bisa mengerti pikiran makhluk yang sudah lama meninggalkan kemanusiaannya?
‘…Antara ketua, wakil ketua, direktur, dan Tujuh Pahlawan, aku bosan berurusan dengan monster.’
Dikelilingi makhluk berwujud manusia ini, dia yakin tak akan hidup cukup lama sampai pensiun.
Demi pensiun dini dengan uang pesangon, karir pun rela dikorbankan.
Saat dia mengusap bibirnya yang gemetar, pengumuman bergema di lapangan latihan.
[Berikutnya siswa =Kang Geom-Ma= dari Kelas Serigala. Silakan maju.]
Supervisor Ha terkekeh.
“Kepala! Itu dia! Sang Saint Sashimi!”
“Ah.”
Kepala Sung spontan menoleh ke pintu masuk.
Di sanalah dia berdiri.
Bocah berambut hitam yang menggebrak akademi.
Siswa aneh yang senjatanya pisau dapur.
‘Sang Saint Sashimi…’
Kang Geom-Ma melangkah mantap. Kehadirannya sendiri sudah membuat lapangan latihan sebesar stadion sepak bola hening.
Kepala Sung tak sadar menelan ludah.
Jika Leon seperti mentari tengah hari, Kang Geom-Ma adalah malam paling gelap tanpa bulan.
Siang dan malam. Bagaimana mungkin dua jenius begitu bertolak belakang lahir di generasi yang sama?
Tapi lebih dari berdampingan, hubungan mereka terasa tidak stabil.
Seperti tak bisa berbagi ruang yang sama.
Kepala Sung punya firasat buruk.
Supervisor Ha bertanya padanya.
“Kepala, menurutmu dia dapat nilai berapa?”
“Yah, jika dia dapat julukan ‘Saint Sashimi’, harusnya lebih dari 90 poin, kan? Tapi lebih dari itu… aku tak tahu. Lagipula Leon baru saja cetak rekor.”
“Benar. Leon tak cuma memotongnya jadi dua dengan sekali tebas, tapi kurang dari satu detik. Mengalahkan itu… hampir mustahil.”
Kepala Sung mengangkat bahu.
“Ya, kalau beruntung, mungkin seri di 98 poin. Tapi jujur saja, kita jadi terlalu menuntut. Jika dia dapat di atas 90, dia sudah monster. Lihat rekornya wakil ketua kita… 93 poin. Dan itu saat dia masih tahun kedua.”
“Benar juga. Kalau dipikir-pikir, malah lebih menakjubkan. Jika Changseong dapat 93 poin di usia 18 tahun… Ah, tapi tunggu, peringkat kedua, Meain Poison. Dia kan saudara kembar direktur sekarang?”
“Ya, benar. Dia juga mantan direktur.”
“Ah, iya. Tapi dia tiba-tiba mengundurkan diri dan menyerahkan jabatannya ke saudarinya sebelum menghilang, ya?”
“Ya. Itu sekitar 20 tahun lalu… saat kau masih tujuh tahun, kurasa. Skandal besar. Tapi yah, dia memang orang… yang unik.”
“Unik?”
“Jika penasaran sekali, setelah pangkatmu naik di Asosiasi, cek berkas rahasia. Aku jamin kau akan terkejut.”
Supervisor Ha cemberut kesal.
“Kejam sekali! Tak bisakah kau kasih sedikit petunjuk?”
“Kalau merasa tak adil, dapatkan promosimu. Tapi jika benar-benar ingin tahu… akan kuberitahu ini: seluruh keluarga Poison itu istimewa. Ketua Asosiasi juga dari garis keturunan itu.”
“Ah, sekarang kau sebut itu.”
“Lagipula, ujian akan segera dimulai. Diamlah.”
Bzzz—
Besi jeruji naik dari tanah.
Tapi ada yang tidak beres.
Mata ogre memerah darah, taringnya menggemeretak dalam amarah.
Supervisor Ha panik berseru gemetar.
“Kepala… ogre itu… ada yang salah!”
“Tak mungkin.”
Ogre mulai menghantam jeruji dengan pukulan tak terkendali.
Setiap pukulan membuat jeruji semakin retak.
Krak!
Dengan sekali hantam, kandang hancur dan pintu besi terlempar.
Keluar dari kandang, punggungnya yang bungkuk melurus, tinggi badannya hampir empat meter.
Ia menggeram, memperlihatkan semua gigi kuningnya.
Mata Kepala Sung gemetar ketakutan.
“Sial… Dia benar-benar hilang kendali. Dikalahkan sekali tebas oleh Leon membuatnya gila. Penghinaan itu memicu naluri bertarungnya… Dia mengamuk!”
“M-Mengamuk!? Tapi ogre dalam kondisi itu diklasifikasikan rank A!”
“Hentikan ujian sekarang! Ha, beri tahu para pelatih! Panggil bantuan segera!”
“Y-Ya, Pak!”
— GRAAAAAAHHHH!
Raungan ogre yang memekakkan telinga mengguncang seluruh lapangan latihan.
Siswa di tribun mulai pingsan satu per satu.
Separuh dari mereka langsung kolaps tak sadarkan diri.
Yang masih sadar tak bisa menggerakkan satu jari pun.
“Hey, bangun!”
“P-Pelatih, para siswa kolaps!”
“KYAAAAH!”
Lapangan jadi kacau balau.
Jeritan siswa seolah menambah amarah ogre.
Bum. Bum.
Setiap langkah, tanah bergetar.
Dikuasai kegilaan, ogre menyerbu dengan seluruh bobotnya.
Langkahnya begitu berat sampai meninggalkan jejak dalam di tanah.
Pas saat dia akan mengayunkan pentungannya—
Kang Geom-Ma nyaris tak menggerakkan pisau sashiminya.
Slit.
Persis di saat itu, raungan ogre terhenti tiba-tiba.
Matanya yang merah darah jadi putih polos.
Pupilnya kehilangan fokus dan melayang ke arah berlawanan.
— Oghh…?
Ogre limbung, langkahnya tak stabil.
Tapi momentumnya terlalu besar.
Tak bisa berhenti, dia tersandung melewati Kang Geom-Ma.
Tubuh besarnya rubuh ke tanah dan tergelincir tanpa perlawanan.
Dada dan perutnya menyapu tanah seperti lap pel lantai dengan badannya yang besar.
[Ujian Kelas Serigala telah berakhir.]
Suara robotik memecah keheningan seperti kaca pecah.
Pengumuman otomatis itu menyadarkan Kepala Sung dari lamunannya, tapi sensasi dingin di tulang punggungnya membuatnya tak bisa bicara.
Dia menoleh ke Supervisor Ha.
Gadis itu menatapnya dengan mata membelalak.
‘…Apa itu tadi?’
Mulutnya bergerak tanpa suara.
‘Dan bagaimana aku harus tahu?’
Sung menjawab dengan tatapan.
Keduanya kembali menatap ke tengah lapangan latihan.
Ogre terbaring tak bergerak di tanah, tangannya di dada.
Tapi tak ada satu pun goresan di tubuhnya.
‘Apa… apa-apaan ini?’
Saat Leon memperlihatkan keahlian pedangnya, semua orang kagum dan bersorak.
Tapi ini… apa sebenarnya ini?
Kang Geom-Ma nyaris tak menyentuh gagang pisau sashiminya, dan ogre itu sudah mati dengan mata kosong.
‘Serangan jantung?’
Kepala Sung terdiam.
Ogre itu memegangi dadanya seakan jantungnya berhenti.
Apa Kang Geom-Ma membunuh hanya dengan tatapan?
Apa ini, Death Note?
Atau lebih tepatnya, Death Sashimi?
Bahkan di Akademi Joaquin yang penuh monster, ini keterlaluan.
Sementara itu, sub-dimensi masih menghitung skornya.
Waktu evaluasi lebih lama dari biasanya.
[Skor siswa =Kang Geom-Ma= adalah…]
Kang Geom-Ma memutar bahunya seperti peregangan sambil menunggu hasil.
Ekspresi acuhnya membuat Kepala Sung kehilangan kata-kata.
Beep—!
[…Skor tak terukur: ∞.]
[Infinity bukan angka sehingga tak bisa dikonversi ke skor.]
[Namun, tabel peringkat akan diperbarui sesuai.]
[Peringkat 0: Kang Geom-Ma / ∞.]
[Peringkat 1: Leon van Reinhardt / 98 poin.]
[Peringkat 2: Meain Poison / 96 poin.]
[Peringkat 3: Siegfried von Nibelung / 95 poin.]
[Peringkat 4: Media Poison / 94 poin.]
[Peringkat 5: Richard Mura / 93 poin.]
Tak ada energi tersisa untuk terkejut. Kepala Sung hanya merasa pusing.
“Hey, apa-apaan itu tadi?! Bagaimana kau melakukannya?”
Begitu aku kembali ke tempat duduk, Ryozo membanjiriku dengan pertanyaan.
Dia bersandar ke arahku, menuntut jawaban.
“Bagaimana mungkin kau mengalahkan ogre tanpa mengeluarkan senjatamu? Aku bahkan tak tahu harus mulai kagum dari mana! Dan di atas itu, skormu menunjukkan simbol tak terhingga! Ogre itu tiba-tiba mati begitu saja! Apa, kau bicara padanya dan minta dia jatuh di saat tepat? Atau… kau memotongnya konsep Pedang Mental?”
“Aku mengeluarkan Ranah Mental agar tak perlu mengeluarkan senjataku, tapi aku menggunakannya berbeda kali ini.”
“……?”
Mata Ryozo membelalak. Aku menggaruk pipi dan menjelaskan.
“Ryozo, kau tahu apa itu ‘Fear’, kan? Aura yang dilepas ogre saat mengaum tadi.”
“Tentu. Itu manifestasi tekanan dari makhluk ajaib tingkat tinggi. Dasarnya, gelombang infrasonik untuk melumpuhkan mangsa sebelum menyerang. Meski ada teori akademis yang masih memperdebatkan…”
“Aku tak tahu teori akademis, tapi yang aku tahu, Fear terkoneksi langsung ke jantung makhluk itu. Dengan kata lain, itu denyutnya, gelombangnya. Singkatnya, seperti suara mesin mobil.”
“Yah… walau konsepnya berbeda, analogimu masuk akal. Tapi apa hubungannya dengan ogre yang kolaps?”
“Tak rumit. Kupikir kalau aku memotong Fear-nya, jantungnya akan berhenti. Dan yah, ternyata benar. Meski tak kuduga sistemnya tak bisa mengukur skorku…”
“T-Tunggu! Sebentar!”
Ryozo mengangkat tangan menghentikanku.
Matanya yang biru langit terus melebar dan menyempit berulang.
“Kau bilang kau memotong Fear—sesuatu seperti gelombang atau suara? Kau memotong sesuatu yang tak terlihat dan tak berbentuk?”
“Ah, yah… cuma saja aku bisa melihatnya.”
“…Apa?”
[Berkah Dewa Pedang] memungkinkanku memotong yang tak terpotong.
Baik suara, udara, atau getaran, tak ada yang luput.
“Begitulah kurang lebih berkahku.”
“…….”
Ryozo menatapku dalam keterkejutan. Lalu, dia menghela napas panjang.
“Geom-Ma, aku tak tahu apakah kau jenius… atau gila total. Tapi entah bagaimana, skor tak terhingga itu cocok sekali denganmu.”
“…Itu pujian?”
Alis Ryozo sedikit berkerut.
“Tentu! Apa lagi kalau bukan, hinaan?”
Join the discord!
https://dsc.gg/indra
---