Read List 291
Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever Chapter 291: Bahasa Indonesia
Bab 291: Kecelakaan Kecil Krisha:
Di malam musim dingin di Kota Yanshan, pemandangan yang luar biasa terbentang.
Lampu neon dan bulan yang cerah saling melengkapi, menciptakan sebuah kota di mana supernatural berdampingan dengan teknologi. Di metropolis modern ini, sosok-sosok makhluk luar biasa sering berkelana melalui bayang-bayang gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
Beberapa terbang melintasi langit dengan pedang.
Beberapa mengendarai binatang ajaib.
Yang lain berlari dengan kelincahan luar biasa melintasi atap-atap.
Lampu neon yang berkilauan memantulkan cahaya di jalanan bersalju, menggambarkan kontur kota yang hidup. Pejalan kaki yang terburu-buru dan arus lalu lintas yang mengalir membentuk sungai warna yang memukau di malam musim dingin.
Dalam kedinginan yang samar itu, Xu Xi masih bisa mendengar napas lembut penyihir di belakangnya.
Malam yang tenang itu dipenuhi dengan suara napasnya yang teratur dan lembut, menyatu dengan kegelapan.
Ini damai.
Dan… anehnya menghangatkan hati.
Saat itu, Xu Xi tiba-tiba menyadari—sejak simulasi kedua berakhir, ia tidak menghabiskan banyak waktu sendirian dengan Krisha seperti ini.
Satu alasannya adalah bahwa Krisha telah menjadi lebih mandiri.
Dia tidak lagi membutuhkan bimbingan terus-menerus darinya.
Alasan lainnya adalah, kenyataannya, Xu Xi sudah tidak memiliki batasan umur lagi. Berbeda dengan dalam simulasi, Krisha tidak perlu lagi selalu menjaganya.
“Tuan, minumlah teh hangat untuk menghangatkan badan.”
Saat Xu Xi mengenang masa lalu, penyihir yang penuh perhatian itu tiba-tiba muncul di sampingnya.
Ia tidak yakin dari mana ia mendapatkan teh itu, tetapi dia dengan hati-hati menyeimbangkan cangkir di atas nampan dan menyajikannya dengan mantap kepadanya.
Permukaan teh itu bergetar sedikit, berkilau dengan warna merah tua.
Itu adalah Dragon Blood Spirit Tea—seduhan yang kaya akan aroma dan rasa.
“Terima kasih, Krisha.”
Xu Xi menerima cangkir itu, secara naluriah mengucapkan terima kasih pada gadis itu saat ia mengambil satu tegukan. Rasanya familiar—kaya namun menyegarkan.
Teh berkualitas tinggi.
“Teh yang enak,” gumamnya, menyentuh bibirnya ringan. Ia tidak bisa tidak berpikir bahwa Dragon Blood Spirit Tea yang ia tanam sendiri terasa jauh lebih enak daripada teh Chakha yang mahal dari dunia ajaib.
Ia masih ingat berapa tinggi harga secangkir teh itu, satu koin emas.
Di luar, angin melolong semakin kencang.
Langit hitam pekat berputar, mengguncang jendela tua. Kadang-kadang, tiupan tajam menyelinap melalui celah, melingkar di ruang kosong itu.
Namun Krisha, penyihir setia, tidak akan membiarkan apapun mengganggu Xu Xi.
Dengan sebatang jari yang diangkatnya, angin dingin yang tidak berjiwa itu lenyap begitu saja, menghilang ke salju yang jatuh tanpa suara.
Kepala bulunya bergetar sedikit, dan cahaya samar yang memantul dari matanya menekankan ekspresi tenang dan acuh tak acuhnya.
Segala sesuatu yang bisa memengaruhi Xu Xi—tidak ada yang luput dari pengawasiannya.
“Krisha, kau tidak perlu mengambil ini begitu serius. Cukup duduklah.”
Xu Xi tertawa.
Tapi Krisha menolak.
Tanpa ekspresi, ia tetap berdiri di sampingnya, memegang nampan di satu tangan dan teko di tangan lainnya.
Ada keseriusan yang tidak biasa pada dirinya.
Apa yang sedang dilakukannya?
Jawabannya sederhana—dia menunggu Xu Xi menyelesaikan tehnya agar dia bisa menuangkan cangkir lain untuknya.
Stabil, metode.
Sama seperti di dunia ajaib, penyihir itu melayaninya dengan cara yang dia anggap terbaik—tanpa ragu, tanpa gangguan, sepenuhnya fokus pada perannya.
Inilah pengabdian dari “Bayangan Gelap.”
Ketekunan tenang dari “Burung Terkurung.”
Itu bukan pengendalian diri.
Itu adalah kebebasan yang unik bagi dirinya.
“…Yah, aku akan merepotkanmu, Krisha.”
Xu Xi menyerahkan cangkir kosong itu, tatapannya secara tidak sengaja bertemu dengan miliknya.
Emas, hitam, dan crimson.
Tiga warna berputar dalam iris matanya.
Simbol dari tiga transformasinya.
“Sekarang kau mengingatnya, pengalaman yang kutemui dalam simulasi dunia ajaib itu benar-benar luar biasa…”
Justru saat ia menghela nafas dalam refleksi, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Krisha, yang baru saja mengambil cangkir dan akan menuangkan lebih banyak teh, kehilangan pegangan sejenak.
Teapot itu terlepas dari jari-jarinya dan terjatuh ke lantai.
Cairan di dalamnya memercik ke mana-mana.
Dengan suara gedebuk, teko itu jatuh ke lantai.
Beberapa teh yang tumpah membasahi gaun Krisha, sementara tetesan menempel pada helai rambut abu-abu peraknya.
“…Maafkan aku, Tuan.”
Krisha berdiri kaku, terkejut.
Sebuah tetesan teh meluncur di sepanjang poni-nya, mengalir mulus di pipinya sebelum menjatuhkan diri ke lantai.
Dia meminta maaf, suaranya lembut dan hilang.
Dia tampak bingung, pakaiannya basah.
Di kakinya, teko itu berputar dalam lingkaran kecil sebelum akhirnya berhenti.
“Tidak apa-apa, Krisha.”
Kejutan awal Xu Xi dengan cepat melunak menjadi ekspresi lembut.
Suara yang menenangkan saat ia meyakinkannya, “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Itu hanya kecelakaan kecil.”
Tidak ada yang disalahkan. Tidak ada teguran.
Lagipula, memarahinya tidak akan ada gunanya.
Dengan sedikit sihir, kekacauan itu dibersihkan dalam sekejap.
Adapun pakaian Krisha yang lembab, Xu Xi akhirnya menggunakan sihir hibrida angin-api miliknya—mantra yang ia ciptakan sendiri, mirip dengan pengering rambut ajaib.
Krisha tetap diam.
Rambut panjangnya melambai di bawah angin hangat, memperlihatkan wajahnya yang halus.
Tanpa ekspresi, tanpa emosi.
Namun entah bagaimana dipenuhi dengan kedalaman yang diam.
Saat ia mengeringkan rambutnya, Xu Xi merasakan ilusi aneh—Krisha, yang kini tumbuh dewasa, seolah bertumpang tindih dengan gadis yang lemah dan rapuh yang dulu ia temui.
“Ada yang salah, Tuan?”
Krisha bertanya.
Dia telah memperhatikan sedikit keraguan dalam tindakannya.
“…Tidak, tidak ada.”
Xu Xi tersenyum dan menggelengkan kepala.
Ia terus mengalirkan sihirnya, memastikan rambutnya benar-benar kering, tidak menyisakan jejak kelembapan.
“Aku hanya tiba-tiba teringat saat pertama kali bertemu denganmu.”
“Waktu benar-benar cepat berlalu.”
Suara Xu Xi mengandung sedikit nostalgia.
Ia masih bisa mengingatnya dengan jelas—Krisha saat itu, kurus dan lemah, seperti hantu gadis yang tampaknya hampir memudar dalam sekejap.
Gambar menyedihkan itu masih tertanam dalam ingatannya.
Tapi sekarang…
Dia sudah tumbuh dewasa.
Menjadi cukup kuat untuk mengejutkannya.
Apakah ia bahagia? Ya, sangat bahagia.
Apakah ia emosional? Tanpa ragu.
Tapi lebih dari semua itu, ia merasa lega.
Melihat gadis yang pernah ia lindungi tumbuh menjadi seseorang yang mandiri—itu adalah kebahagiaan yang lebih besar dari kekuatannya sendiri.
Dari belajar sihir hingga membangkitkan kekuatannya, hingga mengambil tanggung jawab mengelola halaman…
Xu Xi telah menyaksikan setiap langkah transformasi Krisha.
Anak yang dulunya lemah dan kelaparan itu telah menjadi orang dewasa yang mampu, cukup kuat sehingga ia tidak perlu khawatir lagi tentangnya.
“Sudah selesai, Krisha. Kau bisa berdiri sekarang.”
Dengan rambutnya yang kering, Xu Xi melepaskannya.
Krisha meluruskan diri.
Rambut abu-abu peraknya mengalir bagaikan air terjun, cahaya bulan menembus helaiannya bak debu bintang.
“Terima kasih, Tuan.”
Dia berbicara dengan sopan, sedikit membungkukkan kepala sebagai tanda terima kasih.
Tapi ekspresinya… tidak wajar.
Di dadanya, cahaya biru tua dari kalung safir lautan berkilau.
Refleksi batu itu bergejolak, gelisah—gelombang naik dan turun seolah ia telah melakukan sesuatu yang salah.
Tapi itu tidak mungkin.
Krisha selalu patuh.
Selalu hati-hati.
Bagaimana mungkin ia melakukan sesuatu yang salah?
---