Read List 366
Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever c366 – In the Name of Salvation Bahasa Indonesia
Servia adalah tiruan tanpa bakat.
Dia tahu ini.
Selalu tahu.
Zamrud Clawphire hanya bisa bersinar dalam batasan Clawphire.
Dia bukan anak kesayangan dunia.
Nasib pun tidak memberkatinya.
Bertahan dalam kehancuran, mengembara dalam kesepian, tubuh kerangkanya merangkak di bumi, terbebani penderitaan dan kemalangan.
Hanya setelah bertemu Xu Xi, dia tersandung pada jalan seorang penyihir.
Begitulah Servia.
Tak pernah tahu di mana jalannya sendiri, dia hanya mengejar cahaya, bagai ngengat tertarik sinar, tertatih-tatih mengikuti Xu Xi.
Dia mempelajari ajaran dan sihirnya.
Servia ingin terus seperti ini selamanya—tapi dia tak bisa. Cahaya lembut yang memandunya telah lama menghilang tanpa suara.
Jalan ke depan…
Harus dia tempuh sendiri.
Saat naik ke Lingkaran Kelima, Servia memilih dan merangkul jalannya sendiri.
Tanpa kehidupan, karena dia jiwa yang telah pergi.
Tanpa kematian, karena dia pejuang yang bertahan.
Jalan Servia menolak keindahan hidup dan keburukan kematian.
Hanya kemurnian jiwa yang tersisa.
“Servia, merebut cahaya butuh lebih banyak keberanian daripada menahan kegelapan.”
“Aku lihat keberanian itu di jiwamu.”
“Indah. Kukagumi.”
Servia tak punya apa-apa.
Tapi seseorang mengakui jiwanya, menyatakannya lebih bercahaya daripada kisah Saint dalam legenda—
Jiwa yang menyanyikan keberanian, kebaikan, dan ketabahan.
Maka, Servia menempa jalannya sendiri.
Jalinan keberanian dan keyakinan, tapi juga ketakutan dan keraguan.
Jalan berbatu, menyakitkan, hanya untuk Servia yang pemberani—jalan keselamatan, dipegang oleh jiwanya yang rapuh.
Di tengah kekacauan, dunia-dunia berkilau bagai bintang di kegelapan ruang-waktu yang kacau.
Pemandangan itu gelap dan suram.
Jiwa hidup tenggelam dalam keputusasaan, yang mati tak menemui akhirat.
Tapi sang pejuang palsu mengangkat pedangnya, melepaskan “cahaya suci” lebih terang dari yang asli—
Hangat dan bersinar.
Memutus semua penderitaan yang dia lihat.
“Witch Lord, aku tak akan mengecewakamu…” Di dunia gelap dan penuh sakit, Servia tak melihat secercah cahaya—maka dia memilih menjadi cahaya itu sendiri.
Satu wanita. Satu pedang. Satu menara.
Mengejar Netherworld tanpa akhir, sambil menyelamatkan yang menderita, seperti dunia penyihir dulu.
Lambat laun, Servia menyelamatkan banyak dunia.
Lambat laun, Servia semakin kuat.
Melalui waktu yang panjang,
Melalui pengumpulan tahun demi tahun,
Jiwa rapuh itu hanya makin mulia.
Dia mencapai akhir mukjizat, menyatukan konsep hidup dan mati, naik ke Lingkaran Ketujuh—dunia yang diimpikan banyak jiwa.
Memegang “Sacred Sword” pemberian Xu Xi,
Memancarkan “cahaya suci” jiwanya,
Dia melangkah sendirian ke Netherworld tanpa akhir.
Di dalam Netherworld terbentang bidang-bidang jiwa yang luas.
Setiap lapisan, setiap alam, sebanding dengan dunia hidup.
Kacau, bertumpang-tindih.
Servia bergerak dengan tujuan. Merobek kevoidan untuk mengejar aura familier dunia penyihir.
Akhirnya,
Dia melihat tanah airnya—kini asing, tapi masih menyisakan kenangan.
Potongan kebahagiaan masa lalu mengalir, mengusik pikirannya yang beku.
“Ayah… Ibu…”
“Hansen… Mina…”
“Witch Lord…”
Air mata jatuh diam-diam.
Pejuang yang selamatkan banyak dunia hanya bisa memandang reruntuhan tanah airnya, tak bisa mengubah apa pun.
Tapi masih ada yang bisa dia lakukan.
Hal yang hanya bisa dilakukan oleh dia, sang penyintas.
Dalam kegelapan dunia penyihir tua, dentang pedang bergema. Hukum hancur, terkoyak oleh Sacred Sword.
Kekuatan untuk selamatkan dunia.
Keberanian yang takkan mati.
Mengangkat jiwanya yang mulia ke tingkat melampaui semua mukjizat.
“Aura Dunia Induk? Mustahil!”
Di depan Servia, kevoidan berubah jadi sosok samar, suaranya penuh ketidakpercayaan.
“Tidak, tidak mungkin!”
“Dunia Induk sudah jadi bidangku—bagaimana bisa—”
Suara itu terputus tiba-tiba.
Seolah menyadari sesuatu,
Sang Abadi membeku. Berat eksistensinya runtuh.
“Jadi… salah satu yang lolos dulu.”
“Kerabat orang-orang tua itu?”
“Atau mungkin—”
Ekspresinya berubah mengejek:
“Salah satu serangga yang dilindungi si bodoh itu.”
BOOM!!
Langit runtuh. Bumi terbelah.
Dunia bergetar oleh kemarahan sang pejuang.
Dengan satu tebasan pedang, Servia memaksa Sang Abadi mundur—terus ke ujung dunia.
“Keh… kehkeh…”
“Kehkehkeh…”
Berat pedangnya menghancurkan. Teror eksistensinya tak terbantahkan.
Tapi meski Sang Abadi berjuang di bawah serangannya, dia tetap mengejek.
“Saudara?”
“Sahabat?”
“Atau… suami-istri?”
“Aku salah hitung.”
“Serangga yang kuhancurkan ternyata membawa Lingkaran Ketujuh baru.”
“Sayang kau tak lihat bagaimana dia menjerit saat mati.”
Kekuatan hukum Netherworld mengalir, melawan cahaya sang pejuang. Dunia memudar. Ruang-waktu hancur.
Ini adalah kuasa kematian—
Yang bahkan bisa membunuh yang abadi.
Sang Abadi mengejek. Lingkaran Ketujuh baru takkan pernah menyainginya.
Inilah perbedaannya!
Dia tertawa liar, bercerita tentang pembantaiannya—bagaimana korban miliaran hanya harga kecil untuk naiknya.
Setiap kata membuat pedang Servia bergetar.
“Aku akan membunuhmu.”
“Apapun yang terjadi… aku akan membunuhmu!!!”
Suaranya serak, dipenuhi amarah.
Wajah Servia penuh kesakitan, tapi matanya membara. Darah mengalir. Giginya menggemeratuk. Setiap seratnya menjerit kemarahan.
Suara yang mati bergema di telinganya.
Setiap kata.
Setiap suku kata.
Menjadi bahan bakar api jiwanya.
Orang tuanya: “Bunuh kau… bunuh kau… lindungi… Servia…”
Hansen dan Mina: “Nyonya Servia… kau memang baik.”
Xu Xi: “Servia… kau pejuangku.”
Yang mati tak bisa tenang. Yang hidup hidup dalam ketakutan.
Dan dalangnya berdiri di depannya, mengejek, menggambarkan bagaimana Xu Xi terbakar—jiwa dan raga—menjadi ketiadaan.
Sakit.
Hati terkoyak.
Kesedihan dan kemarahan menjadi fondasi jalannya.
“Aku akan membunuhmu!!!”
Matanya berdarah. Suaranya pecah.
Dan demikian, kejernihan yang memutus seluruh dunia penyihir tua bergema di medan pertempuran yang hampir binasa.
---