Read List 367
Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever c367 – I Will Reverse the Laws of the World Bahasa Indonesia
Jalan keselamatan.
Panjang dan melelahkan.
Namun Servia melaluinya tanpa henti.
Setiap kali dia ingin menyerah, setiap kali kesepian yang dingin menggerogotinya, setiap kali guntur menggelegar dan petir membelah langit—
Jarinya akan secara reflek mengenggam erat hulu pedangnya.
Merindukan pertemuan ilusif itu.
Berjuang untuk itu, menjadi cahaya itu sendiri.
Seiring waktu, misi agung keselamatan itu terukir dalam jiwa sang pahlawan, menyatu dengan kebenarannya.
Kilauannya begitu terang hingga Undying Monarch dari Endless Netherworld pun terguncang.
Itu adalah cahaya.
Itu adalah keberanian.
Itu adalah rasa syukur dari ribuan kehidupan, dunia, dan alam semesta.
Keindahan yang terlalu mempesona untuk dipandang.
“B-Bagaimana…?!”
The Immortal One menatap kebingungan, melihat “Holy Sword” yang menancap di tubuhnya, kebingungan merusak wajahnya.
Tapi tak lama.
Kebingungan itu berubah menjadi cemooh.
The Immortal One bersiap membalas.
Seorang Seventh-Circle Wizard menguasai kehidupan, kematian, dan takdir—kecuali ada kuasa lebih tinggi seperti Root of Death dari Endless Netherworld, tak ada yang bisa benar-benar melukainya.
“Serangga tak berakal…!!”
Kekuatan untuk menulis ulang hukum muncul lagi, mengguncang dunia dan lebih jauh.
The Immortal One melepaskan diri dari kendali pedang.
Dan pertarungannya dengan Servia kembali berkobar.
“Bunga-bunga” dingin namun hangat mekar di langit alam jiwa, di mana hukum bertabrakan, di mana yang abadi berperang melampaui hidup dan mati.
Alam semesta hancur. Khaos menulis ulang dirinya.
Medan perang tenggelam dalam darah sang abadi.
Dua Seventh-Circle Towers muncul dari kekosongan, mengumpulkan cahaya dan panas tak terhingga, melepaskan semburan energi rune yang menghapus legiun undead.
“Ada yang tidak beres.”
Waktu berlalu.
The Immortal One, yang awalnya yakin akan menang, kini merasakan keanehan dalam tubuhnya—ekspresinya berubah horor.
“Esensiku… bagaimana bisa—”
“Shing!”
Sebilah pedang yang ditempa dari keinginan menyelamatkan dunia, membawa rasa syukur dari alam semesta tak terhitung, menyerang di momen sempurna—menghapus konsep eksistensi The Immortal One.
Jalan yang tak pernah dibayangkan The Immortal One.
Mukjizat yang dianggap mustahil.
Namun kini.
Sang pahlawan, dalam wujud pedangnya, memberikan pukulan terakhir.
“Wizard… apakah aku…”
“Apakah aku menang…?”
Servia jatuh dari langit, menghantam tanah Netherworld yang remuk.
Wajahnya lelah, tubuhnya berlumuran darah.
Tak ada yang menjawabnya. Hanya suara angin spektral yang meratap.
Kesepian menyelinap ke hatinya.
Air mata kembali menggenang.
Tapi sang pahlawan kuat. Dia menelan kesedihannya, bangkit dalam diam, dan berdiri lagi.
Menatap langit Netherworld, dia merasakan tatapan tersembunyi dalam keputusasaan kematian.
Mereka adalah penguasa alam jiwa lain di Endless Netherworld.
Di antaranya, makhluk yang jauh melampaui Seventh-Circle Wizard.
Yang disebut Eighth-Circle—bahkan Ninth-Circle—puncak eksistensi.
“Wizard…”
“Aku rasa… aku menjadi semau kau.”
“Aku tak bisa… berpaling dari dunia yang menderita lagi…”
Terseok berdiri, Servia menerima “warisan” The Immortal One yang jatuh—otoritas atas alam jiwa dunia Wizard.
Barulah tatapan itu pergi.
Pahlawan tak mencari kekuasaan, tapi dia tahu—jika menolak, Immortal One lain akan merebut alam ini.
“Aku butuh… waktu…”
Menyeret tubuhnya yang terluka, Servia tersenyum getir.
Pikirannya sendiri menakutkannya.
Dia ingin membersihkan Undying Monarchs dari Endless Netherworld, menulis ulang hukumnya, memastikan tak ada dunia yang menderita seperti dunia Wizard.
“Jika Wizard tahu… mereka akan memarahiku…”
“Tapi sekarang…”
“Mereka tak bisa menghentikanku…”
Sunyi.
Lalu, suara tetesan air mata.
Menjadi Immortal One, seseorang harus berjalan di jalan jiwa dan kebenaran.
Kehidupan abadi.
Eksistensi tak mati.
Ini adalah hak istimewa sang abadi.
Tapi waktu yang tak berujung mengikis keinginan dan kemanusiaan mereka. Yang mereka inginkan kini hanya kekuatan lebih besar, pencapaian lebih tinggi.
Pencerahan diri terlalu sulit.
Jadi, para Immortal memilih jalan pintas—menguasai alam jiwa di Endless Netherworld.
Melalui mereka, mereka berbicara dengan misteri kuno Netherworld.
Waktu melahirkan hukum dalam Netherworld, membatasi para Immortal.
Mereka tak bisa merusak dunia hidup dengan bebas.
Mereka tak bisa mengklaim alam jiwa tanpa batas.
Demikian, tatanan rapuh terjaga.
Tapi bagaimana insting Netherworld yang baru bisa benar-benar menahan para Immortal?
Bahkan Netherworld sendiri adalah bencana—hanya melayang dekat dunia lain akan membawa kehancuran.
Dalam perjalanannya melintasi alam semesta, Servia melihat terlalu banyak penderitaan.
Maka, dia bertekad mengubah segalanya—memperbaiki dunia yang terdistorsi ini dari akarnya.
Dia akan membalikkan seluruh penciptaan!
“Berani! Beraninya kau?!”
“Bunuh dia!”
“Biarkan alam ini hancur jika perlu!”
Setelah bertahun-tahun diam, sang pahlawan “Servia Clawphire” melancarkan serangan ke alam jiwa lain, menghapus satu Immortal demi Immortal.
Awalnya, para Immortal mengawasi dengan acuh.
Mereka kira dia hanya ingin menguasai otoritas Netherworld.
Yang kuat wajar mengklaim lebih banyak—tak ada yang campur tangan.
Tapi seiring waktu, kebenaran tak bisa dipungkiri.
Pembantaian Servia tak pernah berhenti. Bahkan setelah menguasai jumlah maksimal alam jiwa yang diizinkan hukum Netherworld, dia terus membersihkan tanpa henti.
Tentu, pembangkangannya memicu pembalasan.
Immortal Seventh-Circle bersatu, bergabung dengan penguasa Eighth-Circle, untuk memburunya selamanya.
Namun hasilnya di luar dugaan.
Entah bagaimana, pembantaiannya terhadap Immortal tetap sejalan dengan kebenaran keselamatannya.
Pahlawan itu terus bertarung, semakin kuat tiap pertempuran, mundur bila perlu—hingga, melampaui semua dugaan, dia mencapai Eighth-Circle.
Pedangnya semakin berat, setiap tebasan membawa beban seluruh dunia—cukup untuk menghapus yang abadi.
“Pernahkah kau dengar… tangisan dunia?”
Dengan kata-kata itu, pedangnya membelah fragmen Endless Netherworld.
Sebagian ragu. Seagian penasaran.
Bahkan Ninth-Circle, sang Pencipta, turun menantangnya.
Tapi Servia tak lagi lari.
Dia membakar dirinya sebagai sumbu, menyalakan api keselamatan.
“Muscle Enhancement!”
“Agility Boost!”
Bukan mantra mendalam.
Hanya dua mantra lingkaran-nol paling dasar.
Tapi pedangnya bergerak lebih cepat dari waktu, menghantam lebih keras dari ruang itu sendiri—menyatukan kehendak ribuan dunia hidup untuk mengukir cahaya abadi di Endless Netherworld.
---