Read List 403
Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever c403 – You Are My One and Only Bahasa Indonesia
“Guru, dunia tanpamu bukanlah dunia yang aku inginkan.”
“Kau membohongiku… Kekuatan cinta tidaklah abadi…”
“Tanpamu, aku tidak bisa… melakukan apa-apa…”
Xu Xi sedang bermimpi.
Gambar-gambar yang terpecah, seperti lukisan minyak yang terdistorsi, bertumpang tindih dan berputar dalam pusaran.
Mereka menyerupai awan bermimpi yang penuh warna.
Berkumpul di langit, bergelombang di lautan bintang.
Permainan cahaya dan bayangan mencerminkan kerinduan tanpa nama, mengungkapkan adegan-adegan realitas yang keras.
Xu Xi melihat banyak penglihatan.
Pucat, tak terbatas.
Dia menyaksikan penyihir berambut perak menangis sendirian setelah simulasi kedua, kesedihannya tumpah dalam kesunyian.
Penyihir itu menjelajahi halaman yang kosong.
Terhuyung-huyung dalam kebingungan.
Hilang dalam ketidakberdayaan.
Namun pada akhirnya, dia bangkit sendiri, mengetahui takkan ada lagi yang akan mengangkatnya.
Kesedihan, air mata, penyesalan.
Pundaknya gemetar.
Disiksa oleh ketidakberdayaannya sendiri.
Andai saja dia bisa menjadi lebih kuat—mungkinkah dia bisa mencegah tragedi itu?
Mengembalikan kehangatan yang telah menghilang?
“Guru…”
“Aku sudah bisa menggunakan sumpit dengan benar sekarang…”
“Aku akan menunggumu. Selalu, selalu… sampai kau kembali.”
Xu Xi menyaksikan semuanya.
Melihatnya berjalan sendirian melalui dunia magis.
Melihatnya menangis namun melangkah maju dengan ketangguhan.
Melihatnya bertahan dalam kesendirian, menunggu selamanya untuk pertemuan kembali.
Sebagai “monster abadi”.
Selalu menanti kembalinya Xu Xi—cahaya hangat dan bersinar yang akan menerangi keberadaannya yang suram.
Fajar menyingsing.
Sinar matahari kuning pucat menembus awan, menyelinap melalui celah tirai untuk menebarkan helaian cahaya samar di wajah Xu Xi.
“Mimpi?”
“Tidak, rasanya terlalu nyata.”
“Hampir… seperti rekaman masa lalu.”
Xu Xi perlahan bangkit dari tempat tidur.
Dia menatap telapak tangannya, tenggelam dalam pikiran.
Meski tidak mengerti mengapa dia bisa melihat masa lalu Krisha, semuanya terasa sangat nyata.
Perasaannya.
Pikirannya.
Kesedihan mendalam dalam mimpi itu telah meresap ke dalam hatinya.
“Apakah kau selama ini menungguku…?”
Xu Xi menundukkan pandangan, larut dalam renungan.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar berderit pelan terbuka.
“Guru?” Itu Krisha.
Hari ini, penyihir itu mengenakan gaun pelayan berenda, rambut perak-abunya mengalir di atas bahunya seperti ombak yang bergulung dalam kesunyian.
Ekspresinya yang tenang tidak dingin—justru membawa keindahan yang khas dan sederhana.
“Guru, sarapan sudah siap: susu hangat, telur goreng, dan daging naga asap,” kata Krisha sambil membawa baki kepadanya.
“Terima kasih, Krisha,” jawab Xu Xi dengan lembut.
“Kau sudah bekerja keras selama ini.”
Krisha menggelengkan kepala.
Suaranya tenang: “Tak perlu berterima kasih, Guru. Ini adalah tugasku.”
Itu tidak sulit.
Tidak akan pernah sulit.
Selama dia bisa bertemu denganmu, selama dia bisa bersatu kembali denganmu—
Melihat wajahmu, menggenggam tanganmu, merasakan kehangatan yang lama hilang—dia takkan pernah lelah.
Karena kamu adalah satu-satunya baginya.
Klik.
Baki itu diletakkan di atas meja.
Krisha melangkah ringan ke tirai yang tertutup, menjepit kain di antara jarinya, dan membukanya.
Whoosh.
Seketika, cahaya pagi membanjiri ruangan.
Hangat, terang, lembut.
Mengusir kesuraman malam.
Menerangi ruang kecil itu.
“Guru, apakah satu porsi cukup?” Krisha berbalik, membelakangi fajar, menghadap satu-satunya matahari yang dia akui.
“Jika tidak, aku bisa menyiapkan sepuluh lagi.”
“Krisha,” panggil Xu Xi.
“Ya, aku di sini.”
“Tawarannya baik, tapi mari simpan untuk lain waktu.”
Xu Xi menolak dengan senyum.
Setelah sarapan, dia berkeliling rumah besar itu.
Berperabot, elegan, dihiasi tumbuhan hijau.
Tak ada yang perlu diubah.
“Hidup ini… tidak buruk,” gumam Xu Xi, teringat hari-harinya di Kota Allenson dulu. Kemiripannya mencolok.
Perbedaannya?
Tak ada lagi penelitian magis.
Kali ini, Xu Xi hanya berencana menemani Krisha—membiarkan penyihir abadi itu menikmati kehangatan selama mungkin.
“Krisha, adakah yang ingin kau lakukan?”
Xu Xi berhenti, menoleh ke penyihir tenang di sampingnya.
“Bersamamu.”
“Adakah lagi?”
“Menjagamu. Merawatmu. Melayanimu.”
Pandangan Krisha tak lepas dari wajah Xu Xi.
Nadanya tenang, namun tegas.
Dunianya berawal dan berakhir dengannya—dia tak bisa memikirkan hal lain.
“Ini…”
Xu Xi merasa terjebak.
Lalu, kilatan ingatan melintas di mata Krisha.
“Guru, ada… satu tempat yang ingin kukunjungi.”
Permintaan Krisha mengejutkan Xu Xi.
Dia ingin mengunjungi katedral terbesar di kota paling ramai di dunia magis ini.
Meski tak ada dewa sejati di sini, kepercayaan tetap berkembang.
Maka, katedral berdiri megah.
Xu Xi tidak mengerti mengapa Krisha—yang membenci dewa—ingin melihatnya. Tapi dia setuju.
“Sungguh langka…”
“Bagimu menyarankan sebuah tujuan.”
Dia tersenyum. “Aku tak bisa menemukan alasan untuk menolak—dan aku pun tak ingin.”
“Ayo, Krisha.”
“Meski aku harus merepotkanmu.”
“Aku sekarang hanya manusia biasa. Tak bisa terbang, tak bisa berteleportasi. Kau harus membawaku ke sana.”
Suaranya lembut, bernada permintaan maaf.
“…Tidak apa, Guru.”
“…Akulah yang merepotkan.”
Krisha mungkin senang dengan persetujuannya.
Wajahnya tetap datar.
Tapi getaran halus di bulu matanya mengungkap kebahagiaannya.
Dengan tongkat di tangan—Gray Rekindling—dia membiarkan Xu Xi menggenggam jarinya. Bersama, dalam cahaya matahari, mereka melangkah ke dalam celah ruang.
Dia tidak bertanya karena ingin pergi.
Dia ingin pergi karena dia ada di sana.
Setelah lompatan ruang yang singkat, Xu Xi dan Krisha muncul di kota terbesar di dunia.
Ini bukan kota biasa.
Ini adalah ibu kota kerajaan.
Rumah bagi banyak pejuang, kesatria, magus—dan lainnya.
Pengendara naga dari legiun kerajaan melesat di langit, tunggangan mereka terjun dalam lengkungan megah.
Megah. Agung.
Suci. Bercahaya.
Begitulah kesan pertama Xu Xi.
Tapi fokusnya ada di tempat lain.
Dia menoleh ke tujuan sebenarnya.
“Katedral… Yang itu? Mengejutkannya mencolok.”
---