Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal...
Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever
Prev Detail Next
Read List 91

Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever Chapter 91: Bahasa Indonesia

Chapter 91: Krisha dan Xu Moli:

Di ruang tamu yang tenang, Krisha dengan tenang menjelaskan kepada Xu Xi tentang perannya dalam mempercepat evolusi supranatural bumi.

Ia menjelaskan bahwa saat pertama kali menemukan bumi, tempat itu sudah berada di tengah kebangkitan supranatural. Tindakan penyihir hanya mempercepat transformasi itu, bertujuan untuk memperluas bumi agar cukup mendukung kedatangan fisiknya.

“Silakan tenang,” kata Krisha lembut, memanggil tongkatnya.

Tongkat itu terlihat biasa saja, persis seperti saat Xu Xi pertama kali memberikannya padanya. Namun, “Kebangkitan Abu-Abu” sekarang menyimpan waktu dan ruang abadi di dalamnya, melindungi semua makhluk dari dunia yang terfragmentasi yang telah menjadi makanan bumi.

Hanya beberapa terpilih—mereka yang memiliki kemampuan khusus atau yang enggan hidup dalam ruang tongkat—yang turun ke bumi beserta pecahan dunia magis mereka. Makhluk-makhluk ini menjadi bagian dari era pemulihan energi spiritual, seperti naga merah.

Xu Xi terjatuh ke sofa ruang tamu, terperangkap oleh banjir wahyu.

“Kabar baik: penyihirku bukan otak di balik semua ini,” gumamnya.

“Kabar buruk: penyihirku adalah kaki tangannya.”

Keterlibatan Krisha dalam menciptakan reruntuhan magis yang sering muncul di bumi tak bisa disangkal.

“Ini… rumit,” desah Xu Xi.

Munculnya reruntuhan batas telah membawa kekacauan dan kemajuan luar biasa. Mereka mempercepat kemajuan manusia, menyatukan umat manusia melawan bencana luar biasa, dan mendorong era baru pengembangan teknologi dan sihir.

Penyakit yang dulunya dianggap tidak bisa disembuhkan kini memiliki solusinya. Peradaban yang terhenti menemukan vitalitas baru. Bahkan keabadian atau dewa tampaknya dapat diraih.

Bencana luar biasa di beberapa tahun pertama tampak pudar dibandingkan keuntungan yang didapat umat manusia.

Xu Xi menutup matanya dan merenung. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak campur tangan dengan tindakan Krisha.

Dia telah memastikan kelangsungan hidup tak terhitung banyaknya makhluk dengan mengintegrasikan dunia mereka ke dalam bumi. Sisa-sisa kosong dan tubuh para dewa yang jatuh hanyalah yang akhirnya bergabung dengan planet ini. Ini adalah kemenangan bagi semua orang.

“Tapi jika bumi benar-benar menjadi cukup besar untuk menampung keseluruhan keberadaan Krisha suatu hari nanti, apa yang akan terlihat seperti itu?” Xu Xi bertanya dalam hati.

Ia membayangkan bumi yang telah berubah menjadi bintang terberat di alam semesta, terkagum-kagum dengan kemungkinan yang ada.

Ketika ia selesai dengan tehnya, ia merasa mentalnya terkuras. Penyihir itu telah membagikan begitu banyak dalam satu hari sehingga Xu Xi tahu akan butuh waktu untuk memproses semuanya.

“Selamat malam, Krisha,” ucap Xu Xi saat hari semakin malam.

Setelah membersihkan diri, ia mengucapkan selamat malam padanya dan bersiap untuk kembali ke kamarnya.

Namun, saat ia berjalan menyusuri koridor yang tenang, ia melihat Krisha mengikuti dengan dekat di belakangnya.

Cahaya bulan melukiskan rambut abu-abunya dengan lembut, menjadikannya terlihat hampir ethereal.

“Krisha, kau tidak kembali ke kamar?” tanya Xu Xi, bingung.

Krisha berhenti, rambutnya bergetar seperti air terjun perak.

“Aku ingin melindungimu,” katanya sederhana. Setelah jeda, ia menambahkan, “Setidaknya untuk malam ini, izinkan aku melakukan ini.”

Xu Xi tertawa, teringat lelucon yang ia buat sebelumnya tentang bergantung padanya untuk perlindungan. Ia tidak menyangka dia akan menganggapnya begitu serius.

“Krisha, terima kasih atas kepedulianmu,” kata Xu Xi dengan senyum hangat, “tetapi aku tidak perlu perlindungan. Dengan kekuatanku saat ini, tidak ada yang di bumi ini yang menjadi ancaman bagiku.”

“Belum tentu, Tuan…” jawab Krisha dengan nada misterius.

Xu Xi menggelengkan kepalanya, percaya pada kemampuannya dan perlindungan dari Air Mata Abadi.

“Terima kasih, Krisha, tapi ini benar-benar tidak perlu,” ia bersikeras sebelum memasuki kamarnya.

Malam itu, Xu Xi memutuskan untuk tidak berlatih.

Wahyu hari itu telah membuatnya kelelahan secara mental. Ia dengan cepat tertidur lelap.

Dunia di luar hidup dengan aktivitas malam. Suara samar dari pusat kota berpadu dengan suara berirama, membuat malam terasa lebih sepi.

Di dalam kamar Xu Xi, udara sedikit bergetar, dan ketika diam, Krisha sudah duduk di kursi kayu di sebelah tempat tidurnya.

Di bawah sinar bulan, ia menatap wajah Xu Xi yang sedang tidur.

“Tuan…” bisiknya lembut.

Penyihir itu tidak mengerti mengapa ia merasa terdorong untuk memanggilnya. Ia hanya ingin menyebut namanya, berulang kali, seolah ingin memastikan kehadirannya.

Tetapi Krisha tidak datang ke kamar Xu Xi hanya karena sentimentalitas. Ia memiliki tujuan.

“Saudaraku…”

Kata itu menggantung di udara, sunyi dan tak terlihat.

Saat itu, keberadaan lain mulai bergerak di dalam ruangan—keberadaan yang seharusnya tidak ada di sana. Tersembunyi dalam bayangan, ia mengamati dengan mata bergetar penuh rasa bersalah dan kerinduan.

Tatapannya jatuh pada penyihir itu, dan ia menyadari dengan rasa sakit bahwa ia tidak sendirian.

---
Text Size
100%