Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal...
Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever
Prev Detail Next
Read List 93

Life Simulation: I Caused the Female Sword Immortal to Regret Forever Chapter 93: Bahasa Indonesia

Chapter 93: Jangan Berkelahi Lagi:

“Mungkin ini adalah jenis reinkarnasi yang unik, hadiah yang hanya milik saudaraku,” kata Xu Moli akhirnya.

Nada bicaranya penuh kompleksitas.

Bagi dia, itu adalah pengungkapan yang penuh rasa pahit dan manis—konfirmasi bahwa saudaranya sepenuhnya mengingatnya.

Namun ketika tatapannya jatuh pada penyihir yang berdiri di depannya, yang dia sendiri kirimkan kepada saudaranya, hatinya terasa berat.

Dia sudah ada di sana lebih dulu…

Seandainya dia lebih tegas saat itu…

Kesadaran itu membuatnya tertekan, dan Xu Moli terdiam dalam konflik batin.

Penyesalan akan masa lalu berpadu dengan ketidaknyamanan tentang masa kini.

Haruskah dia melanjutkan rencana awalnya dan menunggu jiwanya yang sejati bersatu kembali dengan saudaranya? Atau haruskah dia mengubah arah?

Keraguannya menghimpitnya.

Akhirnya, sosok Xu Moli memudar, kesadarannya kembali ke tubuhnya, meninggalkannya dalam lamunan.

Kedatangan mendadak Krisha telah mengganggu rencana yang susah payah disusun oleh peri itu.

“Orang-orang aneh…” bisik Krisha pada dirinya sendiri, menyaksikan kepergian Xu Moli.

“Tapi dia memang orang yang baik.”

Untuk waktu yang lama, penyihir itu berdiri sendirian di luasnya alam semesta, pikirannya berputar.

Dia adalah sosok dengan emosi yang tak peduli, bayangan yang bergantung pada matahari untuk bertahan hidup.

Perilaku Xu Moli yang ragu dan tertutup membingungkannya—itu begitu berbeda dari dirinya sendiri.

Sekarang setelah masalah mendesak gurunya telah teratasi, penyihir itu membuat keputusan: dia akan terus berada di sisi gurunya.

Alam semesta bergetar dengan desiran samar.

Krisha melangkah maju, tongkat sihir di tangan, dan ruang di sekitarnya bergeser.

Ketika riak waktu dan ruang mereda, dia mendapati dirinya kembali di ruangan Xu Xi.

Di atas tempat tidur, Xu Xi terbaring nyenyak, dilindungi oleh lingkaran sihir.

Krisha berdiri diam, menatap wajahnya untuk waktu yang lama, seolah berusaha mengingat setiap detail.

Dia tetap di sana sampai tanda-tanda pertama fajar muncul. Hanya kemudian dia dengan tenang mengambil kursi kayu kecil yang dia duduki, menghilang ke lipatan ruang, dan kembali ke ruangan yang telah dipilih Xu Xi untuknya.

Penyihir itu tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada gurunya.

Dia tidak ingin Xu Xi mengetahui bahwa dia telah menyelinap ke kamarnya tanpa izin.

“Semoga kau beristirahat dengan baik, Guru…” bisiknya lembut, suaranya hilang dalam menyongsong pagi.

Mimpi adalah sunyi, jurang yang luas dan tenang.

Mimpi adalah berwarna-warni, lautan tanpa batas yang berputar-putar.

Ketika Xu Xi terbaring di atas tempat tidur yang lembut, kesadarannya meluncur lebih dalam dan lebih dalam, hingga dia mendapati dirinya di dunia impian yang kabur.

Dunia di sekelilingnya putih dan tak terbatas, seperti hamparan awan yang tak berujung.

“Apakah ini benar-benar mimpi?” Xu Xi bertanya-tanya.

Dia merasa terlalu jernih, terlalu sadar. Ini lebih seperti Jiwanya yang Baru Lahir telah meninggalkan tubuhnya dan sedang meditasi, berkomunikasi dengan alam semesta.

“Tempat apa ini?” desahnya.

Sebelum dia bisa memahami, hamparan kosong mulai berubah.

Warna-warna muncul, berputar dan berpadu, dan segera sosok yang familiar terwujud di depannya.

Salju turun dengan lebat.

Dingin menyengat udara, tajam dan tidak kenal ampun.

Itu adalah musim dingin di Black Rock City.

Sebuah sosok kecil membungkuk di depan pintu rumah kayu, menghembuskan napas ke tangan untuk menghangatkan.

Dia menatap ke arah jalan yang jauh dengan mata penuh harapan, menunggu seseorang untuk kembali.

“Saudaraku, kenapa kau belum kembali…”

Suara itu bergetar kedinginan.

“Mo Li?” Xu Xi membisikkan, hatinya sakit melihat pemandangan itu.

Dia secara naluriah mengulurkan tangannya, ingin menyeka salju dari bahunya.

Tapi saat tangannya bergerak, pemandangan itu bergeser.

Gadis kecil itu semakin besar, menjadi remaja yang lemah terbaring di atas tempat tidur di sebuah gua yang remang-remang.

Mata perempuan itu kusam, dipenuhi air mata rasa bersalah dan putus asa.

“Aku minta maaf, Kakak…”

“Ini salahku… Aku menjatuhkanmu…”

Xu Xi melihat dalam diam, mengenali pemandangan itu sebagai memori dari salah satu dunia simulasi.

Saat itu, dia sedang mencari obat, meninggalkan Xu Moli sendirian di gua.

“Tidak apa-apa,” kata Xu Xi lembut, meskipun dia tahu kata-katanya tak bisa menjangkau dia.

Mimpi itu beralih lagi.

Awan berputar, dan latar belakangnya berubah.

Kali ini, itu adalah kisah Krisha.

Penyihir itu mengembara sendirian setelah kematian Xu Xi, langkahnya bergema di sudut-sudut yang terlupakan dari keberadaan.

Dia mengisi harinya dengan isyarat kecil yang hampa—mengendalikan naga, menanam rumput darah naga yang cerah, dan mengumpulkan barang-barang sehari-hari dalam upaya untuk menciptakan kembali kehidupan yang pernah dia jalani bersama gurunya.

“Guru, lihat.”
“Aku sudah bisa menggunakan sumpit sekarang. Aku tidak akan menjatuhkannya lagi…”

Di meja makan yang sepi, penyihir itu mengambil sepotong daging monster dengan presisi terlatih dan meletakkannya di mangkuk kosong di hadapannya.

Cahaya matahari yang masuk tidak peduli, tidak menawarkan kehangatan.

Krisha tersenyum samar, menggunakan penipuan kecil ini untuk terus melangkah maju.

“Moli, Krisha…”

Mimpi memproyeksikan masa lalu mereka, menjalin fragmen-fragmen kehidupan mereka.

Xu Xi, yang menyaksikan pemandangan-pemandangan ini, merasakan hatinya sakit meskipun dia tahu bahwa saudara perempuannya dan muridnya aman di dunia nyata.

Simulasi itu nyata. Emosinya nyata.
Ini adalah cerita yang meninggalkan jejak tak terhapuskan, mustahil untuk dilupakan.

Tapi kemudian mimpi itu beralih lagi.

Kali ini, Xu Moli dan Krisha muncul bersama.

Tidak sebagai anak-anak atau sosok yang berjuang dari simulasi, tetapi sebagai makhluk kuat yang telah mereka jadikan.

Keduanya bertarung dengan hebat, pertarungan mereka mengguncang bintang-bintang dan meruntuhkan ruang.

Semakin mereka bertarung, semakin destruktif kekuatan mereka, mengancam untuk merobek alam semesta.

“Berhenti bertarung! Jangan bertarung lagi!”

Xu Xi mencoba campur tangan, tetapi energi kacau itu menelannya habis-habisan.

Mimpi itu hancur.

Dengan bingung, Xu Xi membuka matanya pada cahaya lembut pagi hari.

Dia menatap langit-langit, wajahnya tercetak kelelahan.

“Apakah itu benar-benar hanya mimpi?” desahnya.

“Tapi dengan keadaan aku saat ini, seharusnya aku tidak memiliki mimpi aneh seperti itu. Apakah ini semacam pertanda?”

---
Text Size
100%